Akar Kehidupan

Akar Kehidupan

Sebuah renungan bagi pribadi yang hampa

Pernahkah terpikir oleh kita betapa banyaknya anugerah yang telah Tuhan berikan untuk kehidupan kita. Pernahkah kita mengingat, begitu banyak kesempatan dan pilihan yang Tuhan berikan kepada kita untuk bisa  menjalani hidup lebih baik dari yang pernah kita dapat sebelumnya.. terpikirkan kah oleh kita?. Rasanya tidak bukan…? mungkin sebagian manusia pernah… tapi banyak dari kita hanya bisa mengeluh, mencaci, dan bahkan mengingkari kehidupan yang telah di Suratkan oleh Tuhan.

Hidup itu adalah pilihan. Memang Tuhan telah menciptakan garis takdir kehidupan kita. Tapi itu buaknlah suatu akhir, kitalah yang berperan besar menciptkan takdir Kita Sendiri. Manusia berjalan di muka bumi dengan berbagai Pilihan yang Tuhan ciptakan. Jalan apa yang akan Diambil manusia semuanya tergantung bagaimana kita mengambil keputusan untuk mengambil pilihan yang ada.

Seorang maling tidaklah diTakdirkan menjadi maling, jalan yang telah dia putuskan lah yang membuat dia menjadi seorang maling. Manusia dilahirkan seperti kertas putih yang kosong, bersih tanpa coretan atau tulisan atau apapun yang membuatnya kotor. Kertas kosong itu kan menjadi tempat untuk menuliskan pilihan kita. Akankah menjadi suatu tulisan yang bagus. Atau hanya berakhir di tempat sampah yang kotor. Semua kembali pada diri kita… apa yang harus kita pilih, apa yang harus kita tulis supaya kertas tersebut tidak berakhir di tempat sampah dan menjadi busuk.

Salah jalan. Salah memilih. Apakah Tuhan menciptakan manusia dengan Takdir untuk salah jalan atau salah pilih…?. kalau begitu untuk apa manusia hidup. Untuk menjalani kehidupan yang sudah ada akhirnya. Apakah memang seperti itu. Ketika kita didalam kandungan, lalu kita dilahirkan, kemudian kita tumbuh menjadi manusia dan akhirnya kembali ke liang lahat, semua Prosesnya sudah di tetapkan Tuhan. Jika begitu Berarti Tuhan adalah Sutradara yang tengah memimpin suatu Produksi Film, dengan naskah yang telah ada akhirnya, sedang kita hanya sebagai actor yang menjalani adegan adegan, babak-babak dari naskah yang dipegang Tuhan sebagai Seorang Sutradara tanpa boleh beimprovisasi. Apakah itu esensi takdir bagi manusia…? nah mungkin jika memang begitu keadaanya, kita tak lagi punya pilihan. Kita tak lagi memiliki kesempatan untuk menjalani kehidupan seperti keinginan kita dan berimprovisasi dalam kehidupan kita. Apakah begitu…? coba kita buka mata. Pikiran, hati kita dan berusaha memahami Esensi kehidupan yang telah Tuhan hembuskan dalam raga kita ini. kita lihat lagi apakah memang kehidupan di Dunia ini seperti itu. Semua tergantung kita. Tapi lihat dengan hati, pahami dengan nurani, dan semua akan terlihat. Melihat hidup dengan hati bersih tanpa rasa tidak percaya Akan Keagungan Tuhan akan membuat diri kita dapat melihat jalan jalan dan, pilihan pilihan yang Tuhan berikan supaya kita mendapatkan yang terbaik di Dunia ini. tak usah lah kita menyangsikan keagungan tuhan, Ke Maha Adilan NYA, dan Kebaikan Nya. Tuhan pasti memberikan yang terbaik untuk Kita bukan. Atau pernahkah kita ingat apa yang telah kita berikan untuk Tuhan…? Tuhan saja Memberikan Waktunya untuk menjaga kita dua puluh empat jam sehari. Tujuh hari seminggu, empat minggu sebulan, dua belas bulan setahun. Bayangkan….Tuhan tak Pernah tidur. Tak makan dan lain lain hanya untuk menjaga dan memelihara kita, dan seluruh mahkluk ciptaanya. Sedang kita. Kapan kita selau ingat Tuhan. Kapan Tuhan selalu ada dalam hati kita selama itu. Tuhan mungkin bosan mendengar rengekan kita pada saat kita dalam derita. Hanya saat itu, kebanyakan dari kita ingat Tuhan. Saat kita mendapat anugrah kebahagiaan. Apakah Tuhan yang pertama kali kita Ingat?. Tuhan tak butuh Kita. Kita Yang Benar-Benar Butuh Sentuhan tangan Tuhan.ingat itu Tuhan yang menciptakan kita. Jika tuhan ber-kehendak saat ini juga kita bisa diambilnya. Tapi itu bukan Tuhan. Tuhan Tidak pernah mengenakan selendangnya. Malah manusia yang terlalu berani memakai selendang kesombongan dalam hidupnya.

Hidup ini terlau indah untuk di sia siakan begitu saja…tak mudah bagi kita untuk mengerti Akar kehidupan. Tapi semua itu proses. Dan perjalanan kita di dunia ini belum berakhir. Atau mungkin baru dimulai.

Pernahkah terpikirkan oleh kita…?

18 Maret 04

“Saat tersadar mungkin kita telah diambil-Nya”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: